Kopi sebagai suguhan tunggal dalam adat Sasak maksudnya adalah ...

Berikut ini adalah pertanyaan dari wikananda1881 pada mata pelajaran Ujian Nasional untuk jenjang Sekolah Dasar

Kopi sebagai suguhan tunggal dalam adat Sasak maksudnya adalah ...

Jawaban dan Penjelasan

Berikut ini adalah pilihan jawaban terbaik dari pertanyaan diatas.

Jawaban:

Kopi sebagai suguhan tunggal dalam adat Sasak maksudnya adalah ...

ADAB SUKU SASAK SAAT BERTAMU DAN MENERIMA TAMU

Kapan saja dan siapa saja dapat datang ke rumah seseorang untuk bertamu, baik dengan berjanji terlebih dahulu atau tanpa membuat janji terlebih dahulu. Dalam bahasa Sasak bertamu disebut betemue. Bertamu yaitu mengujungi rumah orang lain baik itu keluarga, sahabat kerabat atau siapa saja. Apabila seseorang pergi mengujungi rumah orang lain, dalam tatakrama adat Sasak ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu:

A. Waktu Bertamu

Perlu agan ketahui bahwa untuk bertamu, tidak ada ketentuan mengenai adanya waktu-waktu tertentu. Konsep orang Sasak tentang waktu lebih longgar, sama sekali tidak terikat oleh alat penjaga waktu yang selalu dililit di tangan yang bernama arloji. Konsep waktu orang Sasak lebih berkaitan dengan waktu alami yang berhubungan dengan waktu untuk salat. Sehingga dalam pergaulan dan membuat jadwal-jadwal, seringkali ditentukan waktu ba’da ashar, ba’da magrib dan sebagainya.Waktu bertamu yang juga dianjurkan adalah pada malam hari setelah salat isya (jam 20.00) sampai sekitar jam 22.00, atau bahkan bisa lebih lama dari itu.Waktu antara saat shalat Magrib dan lsya’ bagi kebanyakan orang Sasak, dipergunakan untuk beribadah (shalat) dan atau untuk makan malam. Karena itu sebaiknya tidak dipilih saat-saat itu untuk berkunjung. Tamu yang akan berkunjung harus benar-benar mengetahui waktu yang luang tuan rumah yang akan dikunjungi.

B. Tata Cara Bertamu

Tamu yang datang hendaklah terlebih dahulu mengucap salam agama “ Assalmu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh”, barulah mengetuk pintu. Apabila tuan rumah sudah membuka pintu dan mempersilakan masuk, maka tamu sedikit membungkuk memberi hormat lalu masuk. Biasanya tuan rumah menyilakan tamunya duduk, apakah dengan bersila atau duduk di atas korsi. Pada masa dahulu amat jarang dijumpai korsi tempat duduk. Biasanya digunakan lante *) sebagai alas tempat duduk bersila.

Di rumah orang Sasak, acapkali ditemukan Berugaq* ). Ukuran lumrahnya 2,5 x 2 meter yang biasa juga disebut sekepat ( berugak bertiang empat ). Selain Berugaq, ada juga bale jajar ( karena konstruksi tiangnya berjajar) atau disebut sekenem yang jumlah tiangnya enam buah. Fungsi sekenem sama dengan berugaq tetapi ukurannya lebih luas, sekitar 5×3 meter. Di sinilah lazimnya orang Sasak menerima tamu yang diakrabinya. Karena berbentuk bale-bale sehingga di kedua jenis bangunan (berugaq atau bale jajar/sekenem) tidak disediakan kursi, akan tetapi caranya dengan duduk bersila.

Perlu juga diperhatikan bahwa jika memasuki rumah untuk bertamu, secara umum berlaku tradisi melepas alas kaki, sepatu ataupun sandal. Kecuali jika tuan rumah terus menerus melarang melepas alas kaki, jika tamu mau, dapat juga tidak melepasnya.

C. Menerima Suguhan

Tidak jarang, kopi sebagai suguhan tunggal tuan rumah terhadap tamunya. Dalam hal kopi sebagai suguhan tunggal, tuan rumah akan menyampaikan ungkapan basa-basi dengan mengatakan: kopinya wanen *), maksudnya kopi itu dihadirkan sendiri tanpa ada penganan lain yang menyertainya. Tetapi suguhan minum bisa juga ditemani kue dari jenis apa saja, tidak ada yang standar. Orang Sasak suka dengan suguhan kopi. Banyak diantaranya memiliki cita rasa yang tinggi sehingga terampil membedakan secangkir kopi yang diseduh dengan air yang baru mendidih dengan panas yang cukup, air panas dimasak dengan kayu bakar. Begitu pula, bisa di bedakan antara kopi yang dimasak pakai kekete* ).

D. Hal Tabu Ketika Bertamu

Mengambil atau Memegang dengan Tangan Kiri

Orang Sasak, pada dasarnya tidak menerima budaya tangan kiri (left-handed). Anak-anak yang terlahir kidal, dipaksa untuk mengubah bawaan alaminya untuk mengikuti “Budaya tangan kanan” dengan cara yang kadang-kadang dipaksakan.

Bagi masyarakat Sasak, ada perbedaan yang tegas antara fungsi tangan kanan dan tangan kiri dalam penggunaannya. Orang Sasak menganggap bahwa tangan kanan adalah “Tangan baik” sedangkan tangan kiri adalah “Tangan kotor” yang wilayah penggunaannya terbatas, paling untuk urusan membersihkan sesuatu yang dianggap kotor. Ini budaya Sasak dan tidak terlalu dipermasalahkan.

Tangan kiri memiliki image yang lebih buruk sehingga tidak digunakan untuk memberi dan menerima sesuatu bahkan untuk menerima uang sekalipun. Tangan kiri tidak dipakai menunjuk sesuatu, atau me­ngambil makanan. Khusus bagi seseorang yang kidal tentu saja tidak akan dipandang tidak sopan jika ia menulis, mengoperasikan alat tertentu, atau kegiatan lainnya, sepanjang itu dilakukan untuk dirinya sendiri tanpa ada hubungan komunikasi dengan orang lain. Khusus dalam hal menunjuk, cara yang dianggap paling sopan adalah menunjuk dengan jempol jari tangan kanan. Perlu digaris bawahi juga bahwa meng­gunakan kaki untuk menunjuk sudah tentu sangat melanggar aturan tatakrama adat Sasak

Semoga dengan pertanyaan yang sudah terjawab oleh medator dapat membantu memudahkan mengerjakan soal, tugas dan PR sekolah kalian.

Apabila terdapat kesalahan dalam mengerjakan soal, silahkan koreksi jawaban dengan mengirimkan email ke yomemimo.com melalui halaman Contact

Last Update: Wed, 09 Mar 22