buatlah cerita singkat legenda batu rantai​

Berikut ini adalah pertanyaan dari hamba9830 pada mata pelajaran IPS untuk jenjang Sekolah Dasar

Buatlah cerita singkat legenda batu rantai​

Jawaban dan Penjelasan

Berikut ini adalah pilihan jawaban terbaik dari pertanyaan diatas.

Jawaban:

Cerita Dongeng Nusantara Legenda Batu Rantai

Dalam keadaan bingung dan resah, seorang anak lelaki kecil datang menghadap Paduka Seri Maharaja dan dengan lantang berujar, “Ampun Baginda Raja, sia-sia saja rakyat Paduka minta berpagar betis. Semua itu tidak akan dapat menghentikan serangan ikan-ikan todak. Sebaliknya, rakyat akan semakin banyak menjadi korban.”

Paduka Seri Maharaja amat murka mendengar ucapan si anak lelaki. “Engkau pikir siapa engkau ini, hei budak, hingga berani-beraninya engkau memberikan nasihat kepadaku?”

“Nama hamba Kabil, Baginda Raja. Hamba berasal dari Bintan Penaungan. Hamba sangat mengenal perilaku ikan todak itu. Serangan ikan todak tidak akan dapat dihentikan dengan betis manusia. Hanya dengan batang-batang pisang saja ikan-ikan todak itu dapat dilumpuhkan.”

Meski sebenarnya sangat jengkel dengan keberadaan Kabil, Paduka Seri Maharaja menuruti pula saran Kabil itu. Ia tidak mempunyai pilihan Iain. Ia lantas memerintahkan pemagaran daerah Tumasik dengan batang-batang pisang.

Segenap rakyat bersatu padu menebang pohon-pohon pisang dan menjajarkannya hingga menyerupai pagar. Rakyat bekerja keras serasa tidak membiarkan waktu berlalu selain membentengi daerah mereka dengan batang-batang pisang. Negeri Tumasik kemudian laksana berubah menjadi negeri berpagar batang pisang.

Benarlah saran Kabil. Dengan pagar batang pisang yang rapat, serangan ikan-ikan todak itu berhasil ditanggulangi. Amat banyak ikan todak yang tersangkut pada batang pisang. Paruh mereka yang runcing lagi tajam menghujam ke batang-batang pisang. Mereka menjadi tak berdaya. Rakyat lantas menangkap dan memotong ikan-ikan todak. Ketika mereka mengetahui daging ikan todak ternyata lezat rasanya, rakyat pun berebut menangkap ikan-ikan todak dan memasaknya.

Rakyat bersuka cita setelah berhasil menanggulangi serangan ikan-ikan todak. Bahkan, mereka bersyukur pula pada akhirnya karena tidak perlu bersusah payah mencari lauk untuk makan karena serasa tinggal mengambil ikan-ikan todak yang tersangkut di batang-batang pisang.

Jika rakyat merasa suka cita dan berbahagia, tidaklah demikian dengan para pejabat dan pembesar istana Kerajaan Tumasik. Mereka sangat khawatir jika rakyat akhirnya mendukung Kabil dan mendepak Paduka Seri Maharaja dari takhta. Jika itu yang terjadi, kedudukan mereka selaku pejabat dan pembesar istana Kerajaan Tumasik pun menjadi terancam. Mereka lantas menghadap Paduka Seri Maharaja dan mengungkapkan kekhawatiran itu.

“Kekhawatiran kalian seperti itu terbersit pula di hatiku. Kita memang seharusnya menyingkirkan Kabil dari Tumasik agar pengaruhnya tidak meluas;” ujar Paduka Seri Maharaja. “Namun, kita perlu berhati-hati melaksanakannya. Kabil itu anak yang cerdas. Jika kita mengusirnya, niscaya ia akan kembali. Bisa jadi ia kemudian akan menggalang kekuatan untuk meruntuhkan kekuasaanku.”

“Ampun Baginda Raja, lantas tindakan apa yang sebaiknya kita lakukan?” tanya salah seorang pembesar istana Kerajaan Tumasik.

Paduka Seri Maharaja sejenak merenung sebelum akhirnya memberikan perintah kejamnya, “Tangkap Kabil. Lilitkan rantai besi pada seluruh tubuhnya dan kemudian masukkan ia ke dalam kurungan baja. Tenggelamkan ia dalam laut. Dengan cara itu, maka Kabil akan menemui kematiannya dan kekhawatiran kita tidak menjadi kenyataan:”

Perintah kejam Paduka Seri Maharaja pun dilaksanakan. Para prajurit Kerajaan Tumasik menangkap Kabil. Tubuh Kabil diikat dengan rantai besi dan kemudian dimasukkan ke dalam kurungan yang terbuat dari baja. Kurungan itu lantas dibawa menuju perairan Pulau Segantang Lada untuk ditenggelamkan.

Sebelum ditenggelamkan, Kabil masih sempat berujar kepada Paduka Seri Maharaja, “Beginikah cara Baginda Raja membalas saran kebaikan yang hamba berikan? Bukankah Serangan ganas ikan-ikan todak itu bisa ditanggulangi karena Baginda Raja menuruti saran hamba? Bukankah rakyat Tumasik terbebas dari bencana mengerikan yang diakibatkan ikan-ikan todak itu? Lantas, mengapa hamba diperlakukan begitu buruk seperti

Penjelasan:

legenda batu rantai adalah iri, tamak, dan gila kekuasaan akan menutup dan berusaha membungkam kebenaran. orang yang tamak dan gila kekuasaan akan menghalalkan segala cara demi meraih kekuasaan yang dikehendakinya.

Semoga dengan pertanyaan yang sudah terjawab oleh umarigirisa dapat membantu memudahkan mengerjakan soal, tugas dan PR sekolah kalian.

Apabila terdapat kesalahan dalam mengerjakan soal, silahkan koreksi jawaban dengan mengirimkan email ke yomemimo.com melalui halaman Contact

Last Update: Wed, 18 Jan 23