Apa dampak diterapkannya kearifan lokal terhadap kehidupan masyarakat di Gunungkidul

Berikut ini adalah pertanyaan dari agusmaryati100 pada mata pelajaran IPS untuk jenjang Sekolah Dasar

Apa dampak diterapkannya kearifan lokal terhadap kehidupan masyarakat di Gunungkidul jawab dengan benar ya​

Jawaban dan Penjelasan

Berikut ini adalah pilihan jawaban terbaik dari pertanyaan diatas.

Jawaban:

Kearifan lokal di Gunung Kidul

Dengan kondisi alam yang berupa perbukitan batu gamping (karst), masyarakat berupaya untuk menyesuaikan dan mensiasati lingkungan tersebut, sehingga mereka mampu melangsungkan kehidupannya. Salah satu kebutuhan dasar yang keberadaannya cukup sulit diperoleh di daerah Gunung Kidul adalah air yang digunakan oleh masyarakat dalam berbagai keperluan rumah tangga hingga kegiatan pertanian. Bentuk kearifan lokal yang dilakukan masyarakat untuk menjaga ketersediaan air adalah lahirnya cerita/mitos seperti dikeramatkanya tumbuhan serta telaga yang menjadi sumber air yang sebenarnya bertujuan untuk melestarikan lingkungan. Kegiatan masyarakat di Gunung Kidul tersebut dapat dikatakan sebagai suatu kearifan lokal, karena sifatnya yang secara spesifik hanya dapat diterapkan di wilayah tersebut dan belum tentu sesuai bila dilaksanakan di daerah lain.

2. Pengaruh kearifan lokal terhadap lingkungan

Kegiatan yang telah dilakukan oleh masyarakat di Gunung Kidul secara tidak langsung akan berdampak terhadap lingkungan alamnya. Bentuk kearifan lokal masyarakat dengan melaksanakan perawatan dan penjagaan terhadap sumber air seperti telaga, meskipun aturan yang terkesan mistik dengan mengeramatkan pohon serta telaga tesebut. Namun dengan aturan tersebut sebenarnya masyarakat telah berperan dalam menjaga pasokan air, terutama di daerah telaga yang akan sangat bermanfaat terutama saat musim kemarau (Guntarto, 2003).

Perilaku masyarakat dalam menjaga tumbuhan dan sumber air memiliki pengaruh positif terhadap ketersediaan air, terutama di musim kemarau. Menurut Sulastriyono (2009), terdapat pengaruh yang sangat terlihat pada telaga yang masih alami yakni telaga Omang kecamatan Saptosari, Kabupaten Gunung Kidul dengan banyak tumbuhan di sekitar telaga, menjadikan telaga tetap memiliki air meskipun di musim kemarau. Hal yang cukup berbeda terlihat di daerah telaga Ngloro yang sudah tidak memiliki pepohonan disekitarnya menjadi kering saat musim kemarau tiba. Fenomena yang terjadi di dua wilayah tersebut dikarenakan tumbuhan memiliki fungsi yang penting dalam menjaga ketersediaan air, terutama di kawasan karst saat musim kemarau. Hal tersebut dikarenakan, tumbuhan akan berperan dalam menyimpan air permukaan serta berfungsi sebagai spon untuk cadangan air permukaan yang langka ketersediaannya (Faida dan Wianti, 2012).

Berbagai aktifitas kearifan lokal seperti yang dilakukan di Gunung Kidul telah berperan dalam pengelolaan sumberdaya alam serta lingkungannya (Suhartini 2009, dalam Qandhi, 2012).

3. Pengaruh kearifan lokal terhadap kondisi ekonomi masyarakat

Salah satu pilar dari pertanian berkelanjutan kaitannya dengan kearifan lokal adalah dapat berlangsung secara ekonomis, yang mengandung pengertian bahwa petani mampu mendapatkan penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhannya, sesuai dengan tenaga serta biaya yang telah dikeluarkan tanpa harus menimbulkan kerusakan alam (Aritonang, 2013).

Bentuk kearifan lokal yang dilakukan masyarakat Gunung Kidul dengan memanfaatkan sumberdaya alam (khususnya air) yang ada disekitarnya, akan mengurangi biaya bila dibandingkan harus mendatangkan input dari daerah lain. Hal tersebut akan sangat berpengaruh terhadap kelangsungan kearifan lokal itu sendiri, karena dengan biaya yang rendah maka penghasilan yang diperoleh petani dapat digunakan untuk keperluan yang lain. Akhirnya kearifan lokal tersebut akan terus berkembang dan terus dilaksanakan oleh masyarakat.

4. Pengaruh kearifan lokal terhadap sosial dan budaya masyarakat

Masyarakat yang telah melaksanakan kearifan lokal secara terus menerus akan menghasilkan suatu kebudayaan yang dapat diterima oleh lingkungan dan masyarakatnya. Menurut Suryatmojo (2006), kawasan karst berpotensi menimbulkan masalah sosial apabila tidak ditangani dengan benar, karena merupakan daerah yang kritis dan terbatas sumberdayanya. Hal tersebut mampu dihadapi oleh masyarakat melalui budaya mereka yang cukup bijak dalam mengelola lingkungan tempat tinggal mereka.

Penjelasan:

Kebetulan Saya orang gunung kidul

Semoga dengan pertanyaan yang sudah terjawab oleh rahayu232010 dapat membantu memudahkan mengerjakan soal, tugas dan PR sekolah kalian.

Apabila terdapat kesalahan dalam mengerjakan soal, silahkan koreksi jawaban dengan mengirimkan email ke yomemimo.com melalui halaman Contact

Last Update: Thu, 10 Jun 21