unsur batin puisi doa Chairul anwar ​

Berikut ini adalah pertanyaan dari abinayaazkha6 pada mata pelajaran B. Indonesia untuk jenjang Sekolah Menengah Pertama

Unsur batin puisi doa Chairul anwar ​

Jawaban dan Penjelasan

Berikut ini adalah pilihan jawaban terbaik dari pertanyaan diatas.

Jawaban:

Jadiin jawaban terbaik ya

follow ig : felixginting_manik

Penjelasan:

STRUKTUR FISIK PUISI DOA

1.  Diksi

      Pada puisi Doa karya Chairil Anwar diceritakan bahwa penyair tengah mengalami krisis iman, sehingga diksi yang digunakan oleh penyair adalah diksi yang menggambarkan perasaan yang ragu, bimbang, dan lemah. Pada puisi tersebut terdapat beberapa diksi seperti “Penuh seluruh” memang dua kata tersebut mempunyai makna yang sama namun penulis menuliskannya sedemikian rupa untuk menyatakan bahwa Tuhan ada dan berada dimana-mana.

Lalu, ada pula kata “Lilin”. Dari kondisi penulis yang krisis iman penulis memunculkan kata lilin. Lalu menyandingkannya dengan kalimat “Kerlip lilin di kelam sunyi”. Pada kutipan tersebut kata lilin berarti penerangan dan dalam kehidupan kita bisa diartikan sebagai petunjuk.

      Lalu pada larik ke-9 terdapat kata “Hilang bentuk”. Kata hilang bentuk menggambarkan bahwa penulis tengah mengalami keadaan yang luar bisa, tidak seperti kondisi pada umumnya. Penulis telah hancur atau sudah terjerumus terlalu dalam pada kesesatan yang akhirnya mengakibatkan dirinya hancur.

2.  Kata Konkret

      Di dalam puisi tersebut terdapat beberapa kata konkret meliputi, “Tinggal kerlip lilin di kelam sunyi.” Kata lilin yang disandingkan dengan kata tinggal kerlip menggambarkan petunjuk dalam kehidupan yang hanya tinggal secercah dalam kesesatan. Kesesatan disini digambarkan dengan kalimat kelam sunyi.

      Lalu pada kutipan puisi “Di pintu-Mu aku mengetuk”. Kata pintu disini menggambarkan jalan. Lalu diiringi dengan kata aku mengetuk menggambarkan keadaan yang ingin kembali. Jadi pada kutipan tersebut dimaksudkan bahwa penulis sadar dengan krisis iman yang tengah ia alami dan ia ingin kembali ke jalan-Nya (jalan yang benar).

3.  Imaji

      Penyair mengajak pembaca untuk membayangkan dirinya sendiri yang mengalami luntur iman, kemudian meyakini bahwa tidak ada jalan lain baginya kecuali kembali ke jalan Tuhan. Terdapat imaji cita rasa yang membuat pembaca seakan ikut mengelus dada, dan menyadari dosa-dosanya. Kemudian pembaca merasa yakin bahwa hanya dengan mengikuti jalan Tuhanlah akan selamat.

     Imaji penglihatan terdapat pada kata “tinggal kerdip lilin di kelam sunyi” dengan pengkajian tersebut penyair mengajak pembaca melihat seberkas cahaya kecil walau hanya sebuah perumpamaan. Pembaca diajak seolah-plah mendengar ucapan tokoh aku dalam menyebut nama Tuhan  “aku masih menyebut namaMu”.  Penyair menyampaikan kepada pembaca nikmatnya sinar suci Tuhan sehingga pembaca seolah merasakannya “cahaya-mu panas suci.”

     Dalam puisi “Doa” penyair memanfaatkan citraan untuk menghidupkan imaji pembaca melalui ungkapan yang tidak langsung. Pada bait 1 penyair memanfaatkan citraan visual dengan memanfaatkan bahasa kias berupa majas metafora untuk melukiskan kedekatan antara penyair dengan Tuhan, sehingga timbul keakraban, kekhusukan ketika merenung menyebut nama Tuhannya.

     Penyair juga menggunakan citraan visual untuk melukiskan sesuatu secara berlebihan. Hiperbola dimanfaatkan untuk menyangatkan arti guna menciptakan efek makna khusus. Yaitu melukiskan kedekatan antara penyair dengan Tuhannya. Yang dilukiskan pada baris ketiga, disini penyair melebih-lebihkan kedekatannya, ketulusan, dan kepasrahannya kepada Tuhan “Tinggal kerlip lilin di kelam sunyi”. Disini kedekatan antara penyair dan Tuhan, didalam sebuah kesunyian ketika merenung berdoa, hanya cahaya lilin yang redup dalam kesunyian malam.

     “Mengingat Kau penuh seluruh / Caya-Mu panas suci / Tinggal kerlip lilin di kelam sunyi” menggunakan citraan visual memanfaatkan majas hiperbola pada baris kedua “Aku hilang bentuk remuk” yaitu melukiskan sesuatu yang berlebihan sehingga menimbulkan efek makna khusus. Disini dalam keheningan malam, berdoa menyebut nama Tuhannya dengan sepenuh hati hingga badannya bagaikan hilang dan remuk, rela badanya remuk tak tersisa demi Tuhannya.

     “Tuhanku / Aku hilang bentuk / Remuk” pada kutipan ini menggunakan pencitraan visual yang melukiskan kedekatan antara penyair dengan Tuhannya.

     “Tuhanku / Di Pintu-Mu aku mengetuk / Aku tidak bisa berpaling”. Pemanfaatan pencitraan dalam puisi tersebut mampu menghidupkan imaji pembaca dalam merasakan apa yang diasakan oleh penyair, dengan menghayati pengalaman religi penyair.

4.  Tipografi

      Penulis menggunakan huruf kapital di setiap awal larik. Penulisan huruf kapital di setiap awal larik menggambarkan sesuatu yang tegas. Maksudnya, penulis mengungkapkan dengan tegas dan terang-terangan bahwa ia mengalami krisis iman

      Ada bait yang menjorok ada yang tidak. Menggambarkan keadaan penulis yang kacau dan tidak teratur saat dirinya mengalami krisis iman.

      Pada puisi Doa tidak digunakan tanda baca titik (.). Hal ini menggambarkan bahwa masalah krisis iman yang dialami tokoh terus berlanjut dan berhubungan antara satu dan lainnya sehingga tidak diberikan tanda baca titik untuk memperjelas bahwa masalah yang tengah dialami tokoh bersifat kronologis dan sebab akibat yang tidak dapat dipisahkan.

Semoga dengan pertanyaan yang sudah terjawab oleh felixginting712 dapat membantu memudahkan mengerjakan soal, tugas dan PR sekolah kalian.

Apabila terdapat kesalahan dalam mengerjakan soal, silahkan koreksi jawaban dengan mengirimkan email ke yomemimo.com melalui halaman Contact

Last Update: Wed, 25 Jan 23