Q buatlah sebuah cerpen tentang hari anak ya selamat malam semua

Berikut ini adalah pertanyaan dari asya291006 pada mata pelajaran B. Indonesia untuk jenjang Sekolah Menengah Pertama

Q

buatlah sebuah cerpen tentang hari anak ya


selamat malam semua ^-^
Q
buatlah sebuah cerpen tentang hari anak ya
selamat malam semua ^-^

Jawaban dan Penjelasan

Berikut ini adalah pilihan jawaban terbaik dari pertanyaan diatas.

Jawaban:

Suatu pagi di sebuah desa nun jauh disana, tepatnya sebuah desa tertinggal yang letaknya jauh dari perkotaan. Keluarga kecil yang tak pantas lagi dikatakan kecil hidup bahagia pada sebuah gubug reot nan tua yang terletak dipinggir sungai. Lantai terbuat dari tanah liat dan dinding berbahan dasar bambu yang telah berubah warna karena jamur dimana-mana. Korden usang dan kaca yang sudah tidak bening lagi juga menghiasi sudut gubug tersebut.

Tak pernah memperdulikan semua keadaan itu, Mbok Iyem dan keluarganya tetap menikmati hidup mereka dengan baik. Setiap anggota keluarganya bisa menjalankan fungsinya dengan baik. Kehidupan dalam keluarga itu selalu berjalan dengan harmonis meski tak menutup kemungkinan jika ada satu dua konflik. Tapi itu bukan suatu masalah bagi Mbok Iyem, justru dengan itulah keluarganya semakin erat dan penuh kasih sayang.

Mbok Iyem adalah seorang wanita paruh baya yang sudah punya banyak keriput menghiasi wajahnya. Hidup bersama seorang lelaki tua bernama Pakdhe Parjo dan dua belas orang anaknya. Mereka adalah Pardi, Jumino, Slamet, Yadi, Parmin, Darno, Kartono, Inten, Pariyem, Darmi, Wati dan Siti. Siti adalah anak tertua dan Pardi adalah anak termuda. Selisih umur mereka tidak terlalu jauh, masing-masing hanya 1 – 2 tahun. Pardi anak paling kecil masih berumur 5 bulan, hal ini terkadang memaksa Mbok Iyem mebagi waktu dan pikirannya untuk merawat sawahnya, urusan dapur dan anak-anaknya yang lain.

------

Suatu hari, Pardi merengek minta uang untuk beli buku yang memang dari awal masuk sekolah hanya punya satu. Tidak hanya Siti, masing-masing anak punya kepentingan yang harus segera terpenuhi.

“Mak’e, Darmi nyuwun buku. Bukune cuma satu, mak. Sampun sobek-sobek.”, rengek Darmi pada Mbok Iyem.

“Slamet nggih nyuwun sepatu. Sepatune jebol, mak”

“Karto nyuwun tas mak. Tas e sampun mboten amot”

Begitulah anak-anak Mbok Iyem. Memang resiko yang harus ditanggung Mbok Iyem dan suaminya jika suatu ketika harus mendengar rengekan mereka. Hal ini sebenarnya tidak sering terjadi, hanya waktu-waktu tertentu saat kebetulan berbarengan membutuhkan sesuatu. Bahkan terkadang, baru satu langkah masuk gubugnya setelah dari sawah pinggir desa, mereka sudah menyambut dengan daftar panjang kebutuhan mereka. Perih rasanya dada Mbok Iyem dan suaminya melihat tingkah anak-anaknya. Belum lagi jika harus menjanjikan pada mereka agar bersabar menunggu sampai panenan tiba. Apalagi musim saat ini yang tidak menentu sehingga sawah Mbok Iyem pernah berkali-kali gagal panen.

------

Malampun tiba, Mbok Iyem sedang mengupas berbagai macam sayuran untuk dimasak keesokan harinya. Siti perlahan mendekati emaknya.

“Mak’e, Siti boleh tanya? Kenapa to adik Siti banyak?”, tanya Siti penuh antisuas. Meskipun paling tua tapi Siti tetap saja masih harus dianggap anak-anak yang baru gedhe. Umurnya baru 14 tahun.

“Mbak Siti, banyak anak itu banyak rejeki. Iku pancen pepatah dulu tapi mak’e masih percaya hal iku.”, jelas Mbok Iyem.

“Banyak rejeki gimana to mak? Lha wong malah mak’e banyak mengeluarkan uang gitu kok banyak rejeki. Tahu gitu kenapa kemarin dik Pardi mau diminta Budhe Parjo mak’e ndak mau?”, gumam Siti.

“Hush, kamu tu lho nduk. Jangan begitu, mak’e itu cuma percaya kalau Allah itu sudah membawakan rejeki pada kalian semua. Sabar saja, nanti pasti dikasih jalan. Nyuwun yang banyak ya Nduk sama Allah.”, kata Mbok Iyem dengan sabar.

“Siti masih ndak ngerti, mak”, kata Siti.

“Ngene nduk, percaya to kalau setiap orang itu sudah ditakdirkan rejekinya?”

“Nggih mak, trus?”

“Lha ya itu, mak’e percaya kalau masing-masing anak mak’e bawa rejekinya masing-masing. Insya Allah kalian bawa rejeki buat mak’e sama pak’e.”

“Oooo ngoten mak, nggih lah. Ngapunten nggih mak’e. Siti sayang mak’e”

“Padha-padha yo nduk. Adhi-adhimu kuwi disayang, mbok kasih tahu kalau salah, diperhatikan, amarga mak’e kamu ini ndak bisa ngandhani satu per satu. Kamu kan anak pambarep, mak’e dibantu yo”

“Nggih, mak”

“Banyak anak banyak rejeki”, begitulah prinsip hidup Mbok Iyem. Meskipun kadang terkesan kuno, tetapi jika kita percaya tak ada yang tak mungkin di dunia. Mbok Iyem sudah tak peduli lagi dengan program KB pemerintah, ataupun semboyan “Dua anak cukup”. Baginya, anak-anaknya adalah segalanya dalam hidupnya, anak-anaknya bisa menjadi semangat luar biasa untuk mencari rejeki dan penghibur saat kesedihan menghampirinya.

Terkadang, Mbok Iyem bingung sendiri dengan keadaan manusia saat ini. Banyak yang membuang anaknya di sungai karena “tidak diharapkan” ataupun penyiksaan anak dan kekerasan seksual pada anak yang sering terjadi. Jika dipikir lagi, anak adalah seorang manusia yang harus diberi kasih sayang dan perhatian yang lebih supaya dapat tumbuh dengan baik dan membanggakan orang tuanya saat sudah dewasa kelak. Semoga setiap orang dapat menyadari tentang itu dan permasalahan anak dapat segela teratasi.

Selamat Hari Anak Nasional

Jadikan jawaban tercerdas kak

Semoga dengan pertanyaan yang sudah terjawab oleh ANTA276ML dapat membantu memudahkan mengerjakan soal, tugas dan PR sekolah kalian.

Apabila terdapat kesalahan dalam mengerjakan soal, silahkan koreksi jawaban dengan mengirimkan email ke yomemimo.com melalui halaman Contact

Last Update: Wed, 19 Oct 22