Berikut ini adalah pertanyaan dari Williamzzu pada mata pelajaran B. Indonesia untuk jenjang Sekolah Menengah Pertama
Pagi-pagi sekali. Aku dan Arai telah menunggu ayahku dengan harap-harap cemas
beliau akan datang. Maklum, sungguh merepotkan ketika berangkat pagi buta mengayuh
sepeda tiga puluh kilometer, apalagi melewati dua bukit dan padang
Arai sudah malas bicara denganku. Aku makin gelisah ketika menyaksikan para orang tua murid berbondong-bondong menuju aula. Ayahku tak kunjung tiba. Tiba-tiba saja Arai menatapku benci. Namun, tiba-tiba mataku silau menyaksikan kap lampu aluminium putih dari sepeda yang dikayuh seorang pria berbaju safari empat saku, la tampak kelelahan. terseok-seok, dan semakin cepat ketika melihat kami. Pria itu menyeka keringat saat
tiba di depan kami.
Dadaku terasa sesak saat melihat lipatan mengkilap, serta kumis dan rambutnya yang dicukur rapi. Beliau akan duduk di kursi nomor 75. Namun, beliau tetap cuti dua hari, dan tetap melakukan prosedur yang sama, dengan suasana hati yang sama, untuk mengambil raporku.
pemimpi
Harum daun pandan dari baju safari ayahku membuat air mataku mengalir. Meskipun akan kupermalukan. ibuku tetap merendam daun pandan sehari semalam untuk menyetrika baju safari ayahku. Dan ayahku dengan senang hati datang jauh- jauh mengambil raporku dengan bajunya yang terbaik. Aku tak mampu bicara ketika beliau menyapa kami dengan salam pelan.
"Assalamu'alaikum." tersenyum dan menepuk-nepuk pundak kami dengan banggaAku tertegun. Tak lagi kudengar tepuk tangan ketika nama ayahku dipanggil untuk mengambil raporku. Yang Audengar hanya orang kasak-kusuk mengapa prestasi sekolahku sampai turun drastis. Aku terpuruk dalam penyesalan. Betapa aku ini anak
tak berguna. Betapa sampai hati pada ayahku Sungguh gelisah menunggu ayahku keluar dari aula hingga akhirnya beliau meninggalkan aula. Langkahnya tetap tenang seperti dulu aku masih berprestas Beliau menghampiri kami dan tersenyum.
Namun, ayahku memang menjadi sumber kebanggaan kami. Ayahku tetap tersenyum. Bagaimanapun keadaan kami, kami tetaplah pahlawan baginya. Bela selalu menerima kami apa adanya. Seperti kebiasaannya, beliau menepuk-nepuk lembut pundak kami dan mengucapkan sepatah salam dengan pelan. Aku tersedu melihat ayahku menaiki sepeda tertatih-tatih meninggalkanku. "Puaskah kau sekarang?" Arai menumpahkan kemarahannya padaku. Aku
tukah maumu? Melukai hatinya?
membelakanginya. "Apa sesungguhnya yang terjadi denganmu, Ikal? Mengapa sekolahmu jadi begini? Ke mana semangat dan mimpi-mimpi itu?"
Arai geram sekali. la tak habis mengerti padaku. "Biar kau tahu. Kal, kita hanya memiliki semangat dan mimpi dan kita akan bertempur habis-habisan demi mimpi-mimpi itu." Aku terpaku memandangi ayahku sampai jauh, bentakan-bentakan Arai membakar
hatiku.
Tanpa mimpi.orang seperti kita akan mati..."
Aku merasa beku, serasa disiram seember air es. Mendahului nasib. Dua kata yang menjawab kekeliruanku memaknai arah hidupku.
Pesimistis tak lebih dari sikap takabur mendahului nasib. "Kita lakukan yang terbaik di sini. Dan kita akan berkelana menjelajahi Eropa sampai ke Afrika. Kita akan sekolah ke Prancis. Kita akan menginjakkan kaki di altar suci almamater Sorbonne. Apa pun yang terjadi."
3. Buatlah tanggapan berdasarkan bagian cerita yang menarik. Diskusikanlah dengan teman-teman sekelompokmu. Berikan alasan yang logis dan masuk akal dengan menggunakan bahasa yang santun.
4. Baca ulang tanggapan yang telah kamu susun dan perbaikilah segera
apabila masih ada kesalahan.
5. Laporkan hasil kerja kelompokmu ke depan kelas dengan penuh percaya diri. 6. Berikan kesempatan kepada kelompok lain untuk mengomentari hasil
kerja kelompokmu.
Jawaban dan Penjelasan
Berikut ini adalah pilihan jawaban terbaik dari pertanyaan diatas.
Penjelasan:
"Assalamu'alaikum." tersenyum dan menepuk-nepuk pundak kami dengan banggaAku tertegun. Tak lagi kudengar tepuk tangan ketika nama ayahku dipanggil untuk mengambil raporku. Yang Audengar hanya orang kasak-kusuk mengapa prestasi sekolahku sampai turun drastis. Aku terpuruk dalam penyesalan. Betapa aku ini anak
tak berguna. Betapa sampai hati pada ayahku Sungguh gelisah menunggu ayahku keluar dari aula hingga akhirnya beliau meninggalkan aula. Langkahnya tetap tenang seperti dulu aku masih berprestas Beliau menghampiri kami dan tersenyum.
Namun, ayahku memang menjadi sumber kebanggaan kami. Ayahku tetap tersenyum. Bagaimanapun keadaan kami, kami tetaplah pahlawan baginya. Bela selalu menerima kami apa adanya. Seperti kebiasaannya, beliau menepuk-nepuk lembut pundak kami dan mengucapkan sepatah salam dengan pelan. Aku tersedu melihat ayahku menaiki sepeda tertatih-tatih meninggalkanku. "Puaskah kau sekarang?" Arai menumpahkan kemarahannya padaku. Aku
tukah maumu? Melukai hatinya?
membelakanginya. "Apa sesungguhnya yang terjadi denganmu, Ikal? Mengapa sekolahmu jadi begini? Ke mana semangat dan mimpi-mimpi itu?"
Arai geram sekali. la tak habis mengerti padaku. "Biar kau tahu. Kal, kita hanya memiliki semangat dan mimpi dan kita akan bertempur habis-habisan demi mimpi-mimpi itu." Aku terpaku memandangi ayahku sampai jauh, bentakan-bentakan Arai membakar
hatiku.
Tanpa mimpi.orang seperti kita akan mati..."
Aku merasa beku, serasa disiram seember air es. Mendahului nasib. Dua kata yang menjawab kekeliruanku memaknai arah hidupku.
3. Rasa kecewa seorang ayah kepada anaknya yang dimana prestasinya menurun,sebagai seorang anak patutnya kita memberikan kemampuan terbaik kita sebagai penunjang mimpi,dan seharusnya nilai hanyalah angka kekecewaan orang tua terhadap anak hanya karena sebuah angka juga dapat membuat pesimis sang anak
Semoga dengan pertanyaan yang sudah terjawab oleh anandafian dapat membantu memudahkan mengerjakan soal, tugas dan PR sekolah kalian.
Apabila terdapat kesalahan dalam mengerjakan soal, silahkan koreksi jawaban dengan mengirimkan email ke yomemimo.com melalui halaman Contact
Last Update: Fri, 14 Jul 23