Bagai mnh rasa yg siciptakan oleh peyair dlm puisi pahlawan

Berikut ini adalah pertanyaan dari zakarialasipa15 pada mata pelajaran B. Indonesia untuk jenjang Sekolah Menengah Pertama

Bagai mnh rasa yg siciptakan oleh peyair dlm puisi pahlawan tak dikenal tersebut melalui pegunaan diksi,imaji,kata,konkert dan majas

Jawaban dan Penjelasan

Berikut ini adalah pilihan jawaban terbaik dari pertanyaan diatas.

Jawaban:

Pahlawan Tak Dikenal – Toto Sudarto Bachtiar

Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring

Tetapi bukan tidur, sayang

Sebuah lubang peluru bundar di dadanya

Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang

Dia tidak ingat bilamana dia datang

Kedua lengannya memeluk senapang

Dia tidak tahu untuk siapa dia datang

Kemudian dia terbaring, tapi bukan tidur sayang

wajah sunyi setengah tengadah

Menangkap sepi padang senja

Dunia tambah beku di tengah derap dan suara merdu

Dia masih sangat muda

Hari itu 10 November, hujan pun mulai turun

Orang-orang ingin kembali memandangnya

Sambil merangkai karangan bunga

Tapi yang nampak, wajah-wajahnya sendiri yang tak dikenalnya

Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring

Tetapi bukan tidur, sayang

Sebuah peluru bundar di dadanya

Senyum bekunya mau berkata : aku sangat muda

(1955)

Siasat,

Th IX, No. 442

1955

Analisis Puisi

1. Aspek Lahiriah

A. Pemadatan Bahasa

Bahasa dipadatkan agar berkekuatan gaib. Jika dibaca kata-kata membentuk larik dan bait. Kata dan frasa memiliki makna yang lebih kuat. Karena itu, jika dibaca nampak bahwa baris-baris tidak membentuk kalimat dan alinea, tetapi membentuk larik dan bait yang sama sekali berbeda hakikatnya.Pemadatan bahasa ada dalam bait ke 5.

Dia tidak ingat bilamana dia datang

Kedua lengannya memeluk senapang

Dia tidak tahu untuk siapa dia datang

Kemudian dia terbaring, tapi bukan tidur sayang

B. Pemilihan Kata Khas/diksi

Diksi, dalam arti aslinya dan pertama, merujuk pada pemilihan kata dan gaya ekspresi oleh penulis atau pembicara(wikipedia,2011). Pengarang dalam menuangkan idenya lewat kata yang indah dan bersifat denotatif. Denotatif dalam artian makna sebenarnya.

Contoh:

wajah sunyi setengah tengadah

Menangkap sepi padang senja

Dunia tambah beku di tengah derap dan suara merdu

Dia masih sangat muda

Kesunyian adalah kata nominal yang dibentuk dari kata dasar adjektif, "sunyi". Secara falsafi menyatakan sebuah keadaan hampa yang mutlak. Atau dalam bahasa Jawa kasunyatan.

Padang senja pada puisi tersebut berarti sebuah tanah lapang pada waktu sore menjelang malam hari.

Derap pada puisi tersebut bermakna suara yang ditimbulkan dari para pelayat yang datang ke kuburannya.

c. Kata Konkret

Kata yang dibuat pengarang untuk memperjelas makna, namun bagi pembaca kadang suli ditafsirkan maknanya.

Contoh:

Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring

Tetapi bukan tidur, sayang

Sebuah lubang peluru bundar di dadanya

Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang

Kata peluru dideskripsikan dengan ditambahkan unsur bentuk, yakni bentuk peluru yang bundar.

d. Citraan dalam Puisi

Ada beberapa kata dan kalimat juga dalam karya ini yang mengandung unsur citraan. Pada bait ketiga khususnya.

Wajah sunyi setengah tengadah

Menangkap sunyi padang senja

Dunia tambah beku di tengah derap dan suasana menderu

Dia masih sangat muda

Pada bait ini pengarang lebih imajinatif, pembaca harus dapat menarik makna yang dimaksudkan oleh pengarang. Wajah sunyi disini tidak dapat diartikan secara denotatif. Akan tetapi pembaca harus mencari makna lain yang sesuai dengan frasa tersebut. Wajah sunyi yang dimaksudkan pengarang yakni wajah seorang pahlawan yang sudah meninggal. Setengah tengadah dapat dimaknai bahwa pahlawan ini gugur dengan hati bangga karena gugur dimedan perang. Kemudian klausa “Menangkap sepi padang senja”, ini juga penggunaan imjinaitif pengarang untuk menghidupkan suasana. Dapat diartikan bahwa pahlawan yang meninggal tersebut identitasnya tidak dikenal, sehingga pengarang menggunakan klausa “menangkap sepi padang senja”.

Baris berikutnya “Dunia tambah beku ditengah derap dan suasana menderu”. Penggunaan majaspun dipakai oleh pengarang untuk mengimajinasikan idenya. Penggunaan majas dimaksudkan agar pembaca benar-benar dapat memasuki makna puisi ini dan dapat betapa kasihan seorang pahlawan dalam usia muda sudah gugur di medan perang.

Selain dalam bait ketiga, majas juga digunakan pengarang dalam bait lain, yakni dalam bait pertama. Penggunaan “Senyum bekunya mau berkata”, bait kedua “Kedua lenganya memeluk senapang”. Puisi ini sangat indah dengan adanya penggunaan majas dalam beberapa bait.

Selain penggunaan majas, ada juga hal yang membuat puisi menjadi mengesankan. Seperti kita ketahui, dengan puisinya seorang penyair bukan sekadar memberi tahu tentang sesuatu, seperti yang tertera dalam puisinya, melaikan ingin mengajak pembaca merasakan seperti

Penjelasan:

maaf kepanjangan

Semoga dengan pertanyaan yang sudah terjawab oleh dewitiwi917Yonggi dapat membantu memudahkan mengerjakan soal, tugas dan PR sekolah kalian.

Apabila terdapat kesalahan dalam mengerjakan soal, silahkan koreksi jawaban dengan mengirimkan email ke yomemimo.com melalui halaman Contact

Last Update: Sat, 03 Jul 21