Bagaimana cara raden dewi sartika memecahkan permasalahan hingga mencapai kesuksesan

Berikut ini adalah pertanyaan dari carissanaurah2787 pada mata pelajaran B. Indonesia untuk jenjang Sekolah Menengah Pertama

Bagaimana cara raden dewi sartika memecahkan permasalahan hingga mencapai kesuksesan

Jawaban dan Penjelasan

Berikut ini adalah pilihan jawaban terbaik dari pertanyaan diatas.

Raden Dewi Sartika adalah salah seorang pahlawan nasional Indonesia yagn berasal dari Bandung, Jawa Barat. Beliau dikenal terutama berkat kegigihannya dalam bidang pendidikan. Kehadiran beliau dalam perjuangan bangsa ini juga menunjukkan bahwa perjuangan dan kemerdekaan tak hanya berasal dari buah kerja keras para pria, melainkan juga para wanita.

Pembahasan

Pada kesempatan ini, soal meminta kita untuk menjabarkan cara Raden Dewi Sartika dalam memecahkan permasalahan hingga mecnapai kesuksesan. Berikut kakak akan mencoba menjawab pertanyaan tersebut.

CARA RADEN DEWI SARTIKA MEMECAHKAN PERMASALAHAN HINGGA MENCAPAI KESUKSESAN ADALAH DENGAN MEMBERIKAN PENDIDIKAN KEPADA PARA WANITA, TERUTAMA YANG BERASAL DARI RAKYAT JELATA. IA JUGA KEMUDIAN MENDIRIKAN SEKOLAH ISTERI, YANG KEMUDIAN BERGANTI NAMA MENJADI SEKOLAH KEUTAMAAN ISTERI.

Upaya ini dilakukan untuk menghadapi permasalahan berupa rendahnya akses pendidikan kepada masyarakat Indonesia kala itu, terutama para perempuan yang berasal dari golongan rakyat jelata.

Sebagai rujukan, berikut kutipan biografi Raden Dewi Sartika.

Dewi Sartika lahir di Bandung, 4 Desember 1884, dan meninggal di Tasikmalaya, 11 September 1947 pada umur 62 tahun. Beliau adalah tokoh perintis pendidikan untuk kaum perempuan, diakui sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Indonesia tahun 1966. Ayahnya, Raden Somanagara adalah seorang pejuang kemerdekaan. Terakhir, sang ayah dihukum buang ke Pulau Ternate oleh Pemerintah Hindia Belanda hingga meninggal dunia di sana. Dewi Sartika dilahirkan dari keluarga priyayi Sunda , Nyi Raden Rajapermas dan Raden Somanagara. Meski melanggar adat saat itu, orang tuanya bersikukuh menyekolahkan Dewi Sartika, ke sekolah Belanda pula.

Sepeninggal ayahnya, Dewi Sartika dirawat oleh pamannya (kakak ibunya) yang berkedudukan sebagai patih di Cicalengka. Dari pamannya, beliau mendapatkan didikan mengenai kesundaan, sedangkan wawasan kebudayaan Barat diperolehnya dari berkat didikan seorang nyonya Asisten Residen bangsa Belanda. Sejak kecil, Dewi Sartika sudah menunjukkan bakat pendidik dan kegigihan untuk meraih kemajuan. Sambil bermain di belakang gedung kepatihan, beliau sering memperagakan praktik di sekolah, mengajari baca-tulis, dan bahasa Belanda, kepada anak-anak pembantu di kepatihan. Papan bilik kandang kereta, arang, dan pecahan genting dijadikannya alat bantu belajar.

Raden Dewi Sartika yang mengikuti pendidikan Seko lah Dasar di Cicalengka, sejak kecil memang sudah menunjukkan minatnya di bidang pendidikan. Dikatakan demikian karena sejak anak-anak ia sudah senang memerankan perilaku seorang guru. Sebagai contoh, sebagaimana layaknya anak-anak, biasanya sepulang sekolah, Dewi kecil selalu bermain sekolah-sekolahan dengan teman-teman anak perempuan sebayanya, ketika itu ia sangat senang berperan sebagai guru. Waktu itu Dewi Sartika baru berumur sekitar sepuluh tahun, ketika Cicalengka digemparkan oleh kemampuan baca-tulis dan beberapa patah kata dalam bahasa Belanda yang ditunjukkan oleh anak-anak pembantu kepatihan. Gempar, karena di waktu itu belum banyak anak-anak (apalagi anak rakyat jelata) memiliki kemampuan seperti itu, dan diajarkan oleh seorang anak perempuan.

Berpikir agar anak-anak perempuan di sekitarnya bisa memperoleh kesempatan menuntut ilmu pengetahuan, maka ia berjuang mendirikan sekolah di Bandung, Jawa Barat. Ketika itu, ia sudah tinggal di Bandung. Perjuangannya tidak sia-sia, dengan bantuan R.A.A.Martanegara, kakeknya, dan Den Hamer yang menjabat Inspektur Kantor Pengajaran ketika itu, maka pada tahun 1904 dia berhasil mendirikan sebuah sekolah yang dinamainya “Sekolah Isteri”. Sekolah tersebut hanya dua kelas sehingga tidak cukup untuk menampung semua aktivitas sekolah. Maka untuk ruangan belajar, ia harus meminjam sebagian ruangan Kepatihan Bandung. Awalnya, muridnya hanya dua puluh orang. Murid-murid yang hanya wanita itu diajar berhitung, membaca, menulis, menjahit, merenda, menyulam dan pelajaran agama.

...

Pelajari lebih lanjut

Pada materi ini, kamu dapat belajar tentang Raden Dewi Sartika:

yomemimo.com/tugas/9865847

Detil jawaban

Kelas: VIII

Mata pelajaran: Bahasa Indonesia

Bab: bab 1 - Sastra

Kode kategori: 8.1.1

Kata kunci: cara, Raden Dewi Sartika, memecahkan, permasalahan, mencapai, kesuksesan

Semoga dengan pertanyaan yang sudah terjawab oleh josuasonakmalel dapat membantu memudahkan mengerjakan soal, tugas dan PR sekolah kalian.

Apabila terdapat kesalahan dalam mengerjakan soal, silahkan koreksi jawaban dengan mengirimkan email ke yomemimo.com melalui halaman Contact

Last Update: Sun, 19 May 19