TANTANGAN YANG KUATASIAku merasa gugup saat duduk menunggu di ruang

Berikut ini adalah pertanyaan dari banuraufx0 pada mata pelajaran B. Indonesia untuk jenjang Sekolah Menengah Pertama

TANTANGAN YANG KUATASIAku merasa gugup saat duduk menunggu di ruang rumah sakit, tak yakin apa yang dikatakan Dr. Waites kepada orangtuaku tentang hasil uji itu. Dr. Waites adalah pelopor dalam mendiagnosis disleksia (gangguan bicara) perkembangan.


Semuanya dimulai saat aku pindah ke Dallas waktu kelas empat SD. Aku ternyata ketinggalan dalam kemampuan membaca di Saint Michael's School. Saat diminta membaca dengan keras, aku sulit membaca beberapa kalimat. Guruku, Ibu Agnew, mengatakan bahwa pemahamanku dalam membaca dan kemampuanku untuk mengucapkan kata-kata lebih rendah daripada kemampuan anak kelas empat lainnya. Aku takut setiap kali ia menunjukku untuk membaca karena meskipun aku mencoba sekeras mungkin, ia selalu harus membantuku membaca beberapa kata. Ibu Agnew menyarankan supaya aku melakukan tes psikologi untuk mengetahui apakah aku mengalami disleksia.


Pada awalnya aku bingung mengapa aku harus diuji. Aku masuk ke kelas teladan di sekolah negeri yang dulu. Uji itu membuatku merasa tidak nyaman dan aku takut menjawab pertanyaannya, takut menghadapi kegagalan.


Hasil uji menunjukkan aku mengidap disleksia perkembangan. Pada mulanya, aku patah semangat oleh diagnosis ini, tapi akhirnya aku membulatkan tekad untuk mengatasi cacatku ini.


Aku memperoleh tutor dan terapi ucapan. Aku bahkan mencoba menaklukkan cacat ini sendiri. Aku membaca buku-buku yang sulit, berharap dapat meningkatkan rasa percaya diriku.

Aku mulai membaca dan memahami bacaan dengan lebih baik. Aku bahkan mulai suka membaca, yang terasa ironis karena dulu aku sangat membencinya.


Aku akhirnya berhasil mengatasi cacat belajarku. Dr. Waites meneguhkan ini saat aku diuji lagi, la berkata disleksiaku sekarang minimum. Aku senang sekali. Namun, meskipun aku menaklukkan salah satu tantangan terbesar dalam hidupku, aku masih merasa ada yang hilang.


Mata rantai yang hilang terisi saat aku pertama kali mengenakan seragam bergaris dan berjalan di lorong rumah sakit sebagai relawan di rumah sakit yang sama tempat aku pernahduduk, gugup, dan bingung. Karena aku merasa begitu beruntung mendapatkan akses ke fasilitas yang telah begitu membantuku, aku ingin membalasnya dengan menjadi relawan.


Suatu hari, seorang gadis kecil di kursi roda memintaku membacakan buku untuknya. Aku membacanya lambat-lambat supaya ia dapat memahami cerita dan kata-katanya. Saat sudah waktunya aku pergi, anak itu berterima kasih kepadaku karena telah membaca untuknya. Aku keluar dari kamarnya sambil tersenyum lebar. Delapan tahun yang lalu aku pasti ragu membacakan buku untuk gadis ini, tapi aku sekarang percaya diri.


Aku telah mengatasi cacatku dan membantu orang lain untuk mengatasi cacat mereka. Tekadku bulat untuk sukses dalam hidup ini, dan saat melakukannya, aku ingin membantu orang lain menghadapi dan menaklukkan tantangan seperti yang telah kuatasi.


1. Sebutkan hal-hal yang menarik dalam cerita tersebut!


2. Sebutkan bagian yang paling menyentuh dalam cerita tersebut!


3. Coba ulas cerita tersebut berdasarkan cara-cara meningkatkan motivasi belajar!


4. Apa hikmah yang dapat kamu petik dari cerita tersebut?
TANTANGAN YANG KUATASIAku merasa gugup saat duduk menunggu di ruang rumah sakit, tak yakin apa yang dikatakan Dr. Waites kepada orangtuaku tentang hasil uji itu. Dr. Waites adalah pelopor dalam mendiagnosis disleksia (gangguan bicara) perkembangan.Semuanya dimulai saat aku pindah ke Dallas waktu kelas empat SD. Aku ternyata ketinggalan dalam kemampuan membaca di Saint Michael's School. Saat diminta membaca dengan keras, aku sulit membaca beberapa kalimat. Guruku, Ibu Agnew, mengatakan bahwa pemahamanku dalam membaca dan kemampuanku untuk mengucapkan kata-kata lebih rendah daripada kemampuan anak kelas empat lainnya. Aku takut setiap kali ia menunjukku untuk membaca karena meskipun aku mencoba sekeras mungkin, ia selalu harus membantuku membaca beberapa kata. Ibu Agnew menyarankan supaya aku melakukan tes psikologi untuk mengetahui apakah aku mengalami disleksia.Pada awalnya aku bingung mengapa aku harus diuji. Aku masuk ke kelas teladan di sekolah negeri yang dulu. Uji itu membuatku merasa tidak nyaman dan aku takut menjawab pertanyaannya, takut menghadapi kegagalan.Hasil uji menunjukkan aku mengidap disleksia perkembangan. Pada mulanya, aku patah semangat oleh diagnosis ini, tapi akhirnya aku membulatkan tekad untuk mengatasi cacatku ini. Aku memperoleh tutor dan terapi ucapan. Aku bahkan mencoba menaklukkan cacat ini sendiri. Aku membaca buku-buku yang sulit, berharap dapat meningkatkan rasa percaya diriku. Aku mulai membaca dan memahami bacaan dengan lebih baik. Aku bahkan mulai suka membaca, yang terasa ironis karena dulu aku sangat membencinya.Aku akhirnya berhasil mengatasi cacat belajarku. Dr. Waites meneguhkan ini saat aku diuji lagi, la berkata disleksiaku sekarang minimum. Aku senang sekali. Namun, meskipun aku menaklukkan salah satu tantangan terbesar dalam hidupku, aku masih merasa ada yang hilang.Mata rantai yang hilang terisi saat aku pertama kali mengenakan seragam bergaris dan berjalan di lorong rumah sakit sebagai relawan di rumah sakit yang sama tempat aku pernahduduk, gugup, dan bingung. Karena aku merasa begitu beruntung mendapatkan akses ke fasilitas yang telah begitu membantuku, aku ingin membalasnya dengan menjadi relawan. Suatu hari, seorang gadis kecil di kursi roda memintaku membacakan buku untuknya. Aku membacanya lambat-lambat supaya ia dapat memahami cerita dan kata-katanya. Saat sudah waktunya aku pergi, anak itu berterima kasih kepadaku karena telah membaca untuknya. Aku keluar dari kamarnya sambil tersenyum lebar. Delapan tahun yang lalu aku pasti ragu membacakan buku untuk gadis ini, tapi aku sekarang percaya diri. Aku telah mengatasi cacatku dan membantu orang lain untuk mengatasi cacat mereka. Tekadku bulat untuk sukses dalam hidup ini, dan saat melakukannya, aku ingin membantu orang lain menghadapi dan menaklukkan tantangan seperti yang telah kuatasi.1. Sebutkan hal-hal yang menarik dalam cerita tersebut! 2. Sebutkan bagian yang paling menyentuh dalam cerita tersebut!3. Coba ulas cerita tersebut berdasarkan cara-cara meningkatkan motivasi belajar!4. Apa hikmah yang dapat kamu petik dari cerita tersebut?

Jawaban dan Penjelasan

Berikut ini adalah pilihan jawaban terbaik dari pertanyaan diatas.

Jawaban:

1. "dia" berhasil mengatasi cacat belajar nya

2. tantangan yang harus dia lalui

Semoga dengan pertanyaan yang sudah terjawab oleh syafiimrtng dapat membantu memudahkan mengerjakan soal, tugas dan PR sekolah kalian.

Apabila terdapat kesalahan dalam mengerjakan soal, silahkan koreksi jawaban dengan mengirimkan email ke yomemimo.com melalui halaman Contact

Last Update: Tue, 13 Dec 22