tempat inna diringankan menjadi in​

Berikut ini adalah pertanyaan dari putriitidur2 pada mata pelajaran B. Arab untuk jenjang Sekolah Menengah Atas

Tempat inna diringankan menjadi in​

Jawaban dan Penjelasan

Berikut ini adalah pilihan jawaban terbaik dari pertanyaan diatas.

Jawaban:

. Pengertian

Inna wa akhwatuha (Inna dan saudara-saudaranya) ialah sekelompok huruf (kata depan) yang biasanya berada sebelum isim. Jika sebuah jumlah ismiyah (kalimat yang tersusun dari mubtada’ dan khabar) didahului oleh Inna atau saudara-saudaranya, maka akan mengakibatkan mubtada’ menjadi manshub dan dinamakan isim Inna, dan khabar tetap marfu dan dinamakan khabar Inna. Seperti:

Kalimat pertama

§ ٌاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيْم

Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui

Lafad اللَّهُ menjadi Mubtada' [dibaca rofa'], sedangkan lafad سَمِيعٌ menjadi khobarnya [dibaca rofa']

Kalimat kedua kemasukan إِنَّ

§ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيْم

bahwasannya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui

Lafad اللَّهَ berubah menjadi isim إِنَّ dan dibaca Nashob dengan fathah, sedangkan Kata سَمِيعٌ tetap dibaca rofa' dengan tanda dhommah karena sebagai khabar Inna.

B. Fungsi Inna wa Akhwatuha (إِنَّ وَ أَخْوَتُهاَ)

Inna wa wakhwatuha mempunyai fungsi:

تَنْصِبُ الْاِسْمَ وَتَرْفَــعُ الْــــخَبَر

Menasabkan isim inna dan merofa’kan khabar inna.

contoh jelasnya sama seperti pada poin A:

Kalimat yang kemasukan إِنَّ

§ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيْم

bahwasannya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui

Lafad اللَّهَ berubah menjadi isim إِنَّ dan dibaca Nashob dengan fathah, sedangkan Kata سَمِيعٌ tetap dibaca rofa' dengan tanda dhommah karena sebagai khabar Inna.

C. Yang Termasuk ke Dalam Inna wa Akhwatuha (إِنَّ وَ أَخْوَتُهاَ)

إِنَّ وَ أَخوَتُهاَ : إِنَّ, أَنَّ, كَأَنَّ, لَكِنَّ, لَيتَ, لَعَلَّ

Inna dan saudara-saudaranya yakni : Inna, Anna, Kaanna, Lakinna, Laita, La’alla.

sp; إِنَّ dan أَنَّ guna taukid (mengukuhkan/penguat kata) dan كَأَنَّ guna tasybih (menyerupai) dan لَكِنَّ guna istidrak (susulan), yakni menyusul ucapan yang kemudian dengan ucapan yang terdapat di belakangnya, dan لَيتَ guna tamanni, yaitu menginginkan sesuatu yang tak dapat berhasil, dan لَعَلَّ guna taraji dan tawaqqu’, merupakan mengharapkan sesuatu yang baik, yang barangkali berhasil.

1. إنَّ

Inna dengan kata lain : Sesungguhnya

Fungsinya : Bagi penegasan huruf atau mengokohkan pembicaraan

إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيءٍ قَدِيرٌ

Artinya : Sesungguhnya Allah atas masing-masing sesuatu Maha Kuasa

Kata qodir marfu’ dengan dhommah, dan kata Allah mansub dengan fathah

2. أَنَّ

Anna dengan kata lain : bahwa

Fungsinya : Bagi penegasan huruf atau mengokohkan pembicaraan

لاَبُدَّأَنَّهُم يُرِيدُونَ مِنهُ دَلِيللاً

Artinya: Sesungguhnya mereka tentu menghendaki alasan dari padanya.

أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ الله

Artinya: Aku menyatakan bahwa Muhammad ialah utusan Allah.

3. كَأَنَّ

Kaanna dengan kata lain : seakan-akan

Fungsinya : penyerumpamaan

Contoh :

كَأَنَّكَ نَاءِلٌ مَرَامَكَ

Artinya : agaknya engkau sukses mencapai maksudmu

كَأَنَّ وَجْهَكَ بَدرٌ

Artinya : seolah-olah wajahmu tersebut bulan purnama.

4. لَكِنَّ

Lakinna dengan kata lain : bakal tetapi

Fungsinya : menyangkal

Contoh :

هُوَ عَالِمٌ لَكِنَّهُ غَيرُعَامِلٍ

Artinya : dia pandai namun tidak melaksanakan ilmunya.

5. لَعَلَّ

Laalla artinya: semoga/agar

Fungsinya : pengharapan

Contoh :

لَعَلَّ عَلِيٌّ مَرِيضٌ

Artinya : Semoga Ali sakit.

6. لَيْتَ

Laita dengan kata lain : seandainya

Fungsinya : berangan-angan

Contoh :

لَيْتَ الشَّباَّ يَعُودُ يَوماً

Artinya : sekiranya masa muda itu dapat kembali.

D. Qowaid

1. Tempat-Tempat Hamzah Inna Dibaca Fathah dan Dibaca Kasroh

Fathah

Apabila inna bila ditakwil sebagai masdar maka hamzahnya me sti di fathah,

contoh:

يُعْجِبُنِي أَنَّ زَيْدًا قَائِمٌ

تأويلانيا (أي يُعْجِبُنِي قِيَامُ زَيْدٍ)

Kasroh

1. Jatuh di mula al-kalam (إِذَا وَقَعَتْ أَوَّلُ الْكَلاَمِ ), misalnya

إِنَّ زَيْدًا قَائِمٌ .

2. Jatuh dalam awalan shilah ( وَقَعَتْ صَدْرُ الصِّلَةِ ), misalnya

جَاءَ الَّذِي إِنَّهُ قَائِمٌ

3. Sebagai jawaban sumpah, contohnya وَاللهِ إِنَّ زَيْدًا قَائِمٌ

4. Sebagai hikayat sebuah ungkapan, contohnya قَالَ زَيْدًا إِنَّ عَمْرًا قَائِمٌ

5. Menempati tarkib haal, contohnya زُرْتُ زَيْدًا وَإِنِّي ذُوْ أَمَلٍ

6. Jatuh sesudah af’al al-Qulub yang sudah tetangguhkan amalannya oleh اللاّم , contohnya عَلِمْتُ إِنَّ زَيْدٌ اْلعَالِمُ .

7. Setelah أَلاَ اْلاِسْتِفْتَاحِيَّةِ , contohnya أَلاَ إِنَّ زَيْدًا قَائِمٌ .

8. Setelah حَيْثُ , contohnya اِجْلِسْ حَيْثُ إِنَّ زَيْدًا جَالِسٌ .

9. Bila jumlah inna menjadi sifat, contohnya مَرَرْتُ بِرَجُلٍ إِنَّهُ فَاضِلٌ .

10. Bila jumlah inna menjadi khobar dan isim dzat, contohnya زَيْدٌ إِنَّهُ قَارِئٌ

Kasroh/ fathah

Penjelasan:

semoga membantu ya maaf kalo salah

jadikan jawaban tercerdas ya

Semoga dengan pertanyaan yang sudah terjawab oleh yayasanrmd dapat membantu memudahkan mengerjakan soal, tugas dan PR sekolah kalian.

Apabila terdapat kesalahan dalam mengerjakan soal, silahkan koreksi jawaban dengan mengirimkan email ke yomemimo.com melalui halaman Contact

Last Update: Sun, 06 Feb 22