Mengetahui rukun khutbah Jum'at!BANTUUU HARI INI DIKUMPULKAN​

Berikut ini adalah pertanyaan dari edyajanih pada mata pelajaran B. Arab untuk jenjang Sekolah Menengah Atas

Mengetahui rukun khutbah Jum'at!
BANTUUU HARI INI DIKUMPULKAN​

Jawaban dan Penjelasan

Berikut ini adalah pilihan jawaban terbaik dari pertanyaan diatas.

Rukun khutbah Jumat adalah tata cara pelaksanaan ibadah sholat Jumat yang wajib dilaksanakan setiap Muslim. Rukun tersebut disyaratkan menggunakan bahasa Arab, pelaksanaan dan penuturannya harus dilakukan dengan tertib.

Jenis Jenis Rukun khutbah Jumat :

1. Memuji Allah di Khutbah Pertama dan Kedua

Rukun khutbah Jumat yang pertama adalah memuji Allah. Yang dimaksud memberikan pujian kepada Allah adalah dengan mengucapkan lafadz seperti "Alhamdulillah", "Nahmadu lillah", "Lillahi al hamdu", "Innalhamda lillah", "Hamidu Allah", dan bisa juga dengan "Asy-syukru lillahi."

Sebagaimana dikatakan oleh Syekh Ibnu Hajar al-Haitami:

“Disyaratkan adanya pujian kepada Allah menggunakan kata Allah dan lafadh hamdun atau lafadh-lafadh yang satu akar kata dengannya.

Seperti alhamdulillah, ahmadu-Llâha, Allâha ahmadu, Lillâhi al-hamdu, ana hamidun lillâhi, tidak cukup al-hamdu lirrahmân, asy-syukru lillâhi, dan sejenisnya, maka tidak mencukupi.” (Syekh Ibnu Hajar al-Haitami, al-Minhaj al-Qawim Hamisy Hasyiyah al-Turmusi, Jedah, Dar al-Minhaj, 2011, juz.4, hal. 246)

2. Membaca Sholawat Nabi di Kedua Khutbah.

Rukun Khutbah kedua adalah membaca sholawat nabi. Bacaan tersebut wajib dilafadzkan dengan jelas saat sholat Jumat. Paling tidak ada ucapan sholawat seperti "shalli ala Muhammad", atau "as-shalatu ala Muhammad" atau "ana mushallai ala Muhammad".

Salah satu contoh bunyi sholawat nabi yang bisa diucapkan adalah: "Allahumma sholli wa sallam alaa muhammadin wa alaa alihii wa ash Haabihi wa man tabiahum bi ihsaani ilaa yaumiddiin."

Rukun kedua ini dibahas oleh Syekh Mahfuzh al-Tarmasi:

“Shighatnya membaca shalawat Nabi tertentu, yaitu komponen kata yang berupa as-shalâtu beserta isim dhahir dari beberapa asma Nabi Muhammad shallahu ‘alaihi wasallama”. (Syekh Mahfuzh al-Tarmasi, Hasyiyah al-Turmusi, Jedah, Dar al-Minhaj, 2011, juz.4, hal. 248).

3. Berwasiat Ketakwaan di Kedua Khutbah.

Rukun khutbah Jumat yang ketiga adalah wajib memberikan wasiat ketakwaan.

Artinya, isi khutbah harus mengandung pesan kebaikan seperti mengajak pada ketakwaan serta menjauhi kemunkaran. Hal ini bisa diucapkan dengan kata:

  • "Athiullaha" yang berarti "taatilah Allah"

  • "Ittaqullaha" yang artinya "bertakwalah kepada Allah"

  • "Inzajiru 'anil makshiyat" yang artinya "jauhilah maksiat"

Syekh Ibrahim al-Bajuri menyatakan:

“Kemudian berwasiat ketakwaan. Tidak ada ketentuan khusus dalam redaksinya menurut pendapat yang shahih.

Ucapan Syekh Ibnu Qasim ini kelihatannya mengharuskan berkumpul antara seruan taat dan himbauan menghindari makshiat, sebab takwa adalah mematuhi perintah dan menjauhi larangan, namun sebenarnya tidak demikian kesimpulannya.

Akan tetapi cukup menyampaikan salah satu dari keduanya sesuai pendapatnya Syekh Ibnu Hajar. Tidak cukup sebatas menghindarkan dari dunia dan segala tipu dayanya menurut kesepakatan ulama”.

(Syekh Ibrahim al-bajuri, Hasyiyah al-Bajuri ‘ala Ibni Qasim, Kediri, Ponpes Fathul Ulum, tanpa tahun, juz.1, hal.218-219)

4. Membaca Ayat Alquran di Salah Satu Khutbah

Rukun khutbah Jumat yang keempat adalah membaca ayat suci Alquran dalam salah satu khutbah, namun lebih utama dibaca saat sesi pertama. Jika diterjemahkan, ayat ini harus dibaca setidaknya satu kalimat lengkap. Bukan potongan ayat yang jika diartikan tidak dapat dimengerti maksudnya.

Hal ini dijelaskan oleh Syekh Abu Bakr bin Syatha:

“Rukun keempat adalah membaca satu ayat yang memberi pemahaman makna yang dapat dimaksud secara sempurna, baik berupa janji-janji, ancaman, hikmah atau cerita.

Mengecualikan seperti ayat “tsumma nadhara”, atau “abasa” karena tidak memberikan kepahaman makna secara sempurna.

Membaca ayat lebih utama dilakukan di khutbah pertama dari pada ditempatkan di khutbah kedua, agar dapat menjadi pembanding keberadaan doa untuk kaum mukminin di khutbah kedua.” (Syekh Abu Bakr bin Syatha, I’anatut Thalibin, juz.2, hal.66, cetakan al-Haramain-Surabaya, tanpa tahun).

5. Berdoa untuk Kaum Mukmin di Khutbah Terakhir

Rukun khutbah Jumat yang terakhir adalah mendokan kaum mukminan yang disyaratkan isi kandungannya mengacu pada nuansa akhirat. Misalnya:

  • "Allahumma ajirna minannar" yang artinya "ya Allah semoga engkau menyelamatkan kami dari neraka."

  • "Allahumma ighfir lil muslimin wal muslimat" yang artinya "ya Allah ampunilah kaum muslimin dan muslimah."

Sebagaimana dibahas dalam pernyataan berikut:

“Rukun kelima adalah berdoa yang bersifat ukhrawi kepada orang-orang mukmin, meski tidak menyebutkan mukminat berbeda menurut pendapat imam al-Adzhra’i,

meski dengan kata, semoga Allah merahmati kalian, demikian pula dengan doa, ya Allah semoga engkau menyelamatkan kita dari neraka, apabila bermaksud mengkhususkan kepada hadirin,

doa tersebut dilakukan di khutbah kedua, karena mengikuti ulama salaf dan khalaf.” (Syekh Zainuddin al-Malibari, Fathul Mu’in Hamisy I’anatut Thalibin, Surabaya, al-Haramain, tanpa tahun, juz.2, hal.66).

semoga membantu dan dapat bermanfaat ya terimakasih

Semoga dengan pertanyaan yang sudah terjawab oleh zidanilmi1234 dapat membantu memudahkan mengerjakan soal, tugas dan PR sekolah kalian.

Apabila terdapat kesalahan dalam mengerjakan soal, silahkan koreksi jawaban dengan mengirimkan email ke yomemimo.com melalui halaman Contact

Last Update: Wed, 22 Jun 22